13 Geosite Satu Kaldera: Revalidasi UNESCO Jadi Momentum Berbenah Bersama
BALIGE — Kaldera Toba menyandang status UNESCO Global Geopark sejak 7 Juli 2020. Status itu bukan piagam untuk dipajang, melainkan kontrak kerja: setiap beberapa tahun, UNESCO menilai ulang — apakah geosite dirawat, masyarakat dilibatkan, dan pendidikan kebumian berjalan.
Memasuki siklus revalidasi, 13 geosite yang tersebar dari Tongging Sipiso-piso di utara hingga Tele dan Pusuk Buhit di selatan serentak berbenah.
Tiga pilar yang dinilai
UNESCO menilai geopark dari tiga pilar: konservasi (geologi, hayati, budaya), edukasi (sekolah, museum, pemandu), dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketiganya harus berjalan — kawasan yang indah tapi warganya tersisih akan gagal penilaian.
Kabar baiknya, delapan kabupaten kini bergerak dalam satu orkestra: papan interpretasi geosite diseragamkan, 200-an pemandu geowisata disertifikasi, dan kurikulum muatan lokal kebumian masuk ke sekolah-sekolah di kawasan kaldera.
“Geopark bukan proyek dinas. Geopark adalah rumah kita. Kalau rumah kotor dan penghuninya tidak ramah, siapa yang mau datang dan kembali?” kata seorang pengelola geosite di Samosir.
Dari status menjadi kesejahteraan
Revalidasi adalah momentum — bukan tujuan. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan: anak muda jadi pemandu dan barista di desa geosite, ibu-ibu menjual suvenir geoproduk, dan petani di sekitar geosite panen berkah kunjungan.
Kaldera Toba terbentuk dari letusan dahsyat 74.000 tahun lalu. Tugas generasi hari ini jauh lebih ringan: merawatnya bersama, delapan kabupaten satu tekad.