Pakpak Bharat Memilih Jalan Hijau: Hutan Lestari Jadi Modal Ekowisata
SALAK — Di antara delapan kabupaten kawasan Danau Toba, Pakpak Bharat adalah yang termuda — dan justru itu modalnya. Hutan-hutannya masih perawan, air terjunnya belum banyak terjamah, dan masyarakat adatnya memegang teguh aturan merawat rimba.
Pemerintah kabupaten memilih jalan yang berani di tengah godaan eksploitasi: hutan lestari sebagai modal ekowisata, bukan konsesi jangka pendek.
Ekonomi dari kanopi hutan
Tiga produk hijau mulai menghasilkan: paket trekking air terjun dan birdwatching yang dipandu anak muda desa, madu hutan dan andaliman yang dikemas modern, serta kopi hutan (forest coffee) yang ditanam di bawah tegakan — dibayar premium oleh pembeli yang peduli konservasi.
Setiap paket wisata mencantumkan kontribusi konservasi: sekian persen untuk patroli hutan desa dan beasiswa anak penjaga hutan. Wisatawan tahu persis ke mana uangnya pergi.
“Hutan kami bukan halangan pembangunan. Hutan kami adalah pembangunan — asal kita sabar dan jujur menjaganya,” kata seorang pemandu ekowisata di Salak.
Adat sebagai pagar
Hukum adat Pakpak — termasuk aturan larangan membuka hutan larangan — diperkuat dengan peraturan desa dan pengakuan hutan adat. Kombinasi adat dan regulasi formal ini membuat deforestasi terkendali, mata air terjaga, dan DALAM jangka panjang, seluruh kawasan Danau Toba ikut diuntungkan: hutan Pakpak Bharat adalah atap air kaldera.
Pilihan Pakpak Bharat adalah pelajaran bagi seluruh dataran Toba: membangun tidak selalu berarti menebang. Kadang membangun berarti menjaga.