Parapat–Haranggaol Berbenah: Homestay Warga Simalungun Jadi Tulang Punggung
PARAPAT — Gerbang timur Danau Toba sedang berbenah. Penataan kawasan waterfront Parapat, perbaikan dermaga Haranggaol, dan sertifikasi homestay warga membuat koridor Simalungun kembali dilirik wisatawan — terutama keluarga dan komunitas yang mencari pengalaman danau yang otentik dan terjangkau.
Parapat punya modal yang tak dimiliki kawasan lain: sejarah. Kota ini adalah gerbang legendaris Danau Toba sejak era 1980-an, dengan hotel-hotel heritage, pekan raya, dan confirming view terbaik matahari terbenam dari Sibaganding.
Homestay: ekonomi yang tinggal di kampung
Berbeda dengan hotel besar yang bocor ke luar daerah, homestay menahan uang di kampung. Program sertifikasi homestay — mencakup kebersihan, keamanan, dan standar MCK — membuat 120-an homestay di Parapat, Girsang Sipangan Bolon, dan Haranggaol naik kelas dan masuk platform pemesanan daring.
“Kamar saya cuma empat, tapi selalu penuh tiap akhir pekan. Tamu saya ajak ke ladang, ke danau, makan arsik. Mereka datang sebagai tamu, pulang sebagai keluarga,” kata seorang pemilik homestay di Haranggaol.
Kapal rakyat naik kelas
Armada kapal kayu penyeberangan Haranggaol–Samosir diperbarui standar keselamatannya: pelampung untuk semua penumpang, manifes digital, dan nakhoda bersertifikat. Keselamatan adalah fondasi kepercayaan — dan kepercayaan adalah mata uang pariwisata danau.
Simalungun menunjukkan jalan tengah yang sehat: negara menata kawasan, warga memiliki usaha. Waterfront boleh dibangun pemerintah, tetapi kamar, kapal, dan kuliner tetap milik rakyat.